Jumat, 27 Juni 2014

Analisis Budidaya Tomat


ANALISIS TINGKAT PENGETAHUAN INOVASI TEKNOLOGI
BUDIDAYA TOMAT DI DESA PERMATA, KECAMATAN
PAGUYAMAN, KABUPATEN BOALEMO

Ari Abdul Rouf, Dahlan Walangadi, Muh. Rusliyadi dan
Soimah Munawaroh
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Gorontalo
Jl. Kopi No. 270 Kec. Tilong Kabila Kab. Bone Bolango Gorontalo – 96183
E-mail : ariabdrouf@gmail.com

                                                ABSTRAK

     Kajian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman/pengetahuan petani Tomat terhadap
inovasi teknologi budidaya tomat sebagai bagian proses pengambilan keputusan dalam
mengadopsi inovasi teknologi. Teknik penentuan sampel yang digunakan adalah secara sengaja
(purposive sampling) yaitu pengambilan sampel yang dipilih secara langsung berdasarkan
pertimbangan-pertimbangan tertentu yaitu 38 petani tomat peserta Gelar Teknologi
Hortikultura di Desa Permata. Analisis menunjukan secara keseluruhan pemahaman petani
terhadap inovasi teknologi budidaya tomat memiliki kategori baik dengan nilai persentase
79,93%. Dari 10 komponen teknologi yang dievaluasi, 2 diantaranya berkategori cukup
sedangkan lainnya baik. Peningkatkan pemahaman petani tomat di Desa Pertama, Kecamatan
Paguyaman, Kabupaten Boalemo melalui penyuluhan Budidaya Tomat perlu difokus pada
komponen pemasangan mulsa dan pengendalian hama penyakit secara terpadu (HPT)
mengingat pemahaman petani masih berkategori cukup.
Kata Kunci : Pengetahuan, inovasi, budidaya, tomat

PENDAHULUAN

     Pada dasarnya kebutuhan teknologi bagi setiap pengguna akan berbeda menurut karakter agroekologi setempat, tingkat perkembangan usahatani, sosial-budaya dan ekonomi petani. Dengan pertimbangan tersebut, maka pengkajian dan perakitan teknologi spesifik lokasi perlu mengacu pada persyaratan umum teradopsinya teknologi yang mencakup antara lain aspek teknis, sosial-budaya, ekonomi, dan lingkungan.           Dengan demikian, peluang teradopsinya, teknologi spesifik lokasi lebih besar dibanding teknologi pertanian nonspesifik lokasi. Salah satu bentuk penyebarluasan atau diseminasi hasil penelitian dapat dilakukan melalui kegiatan Gelar Teknologi. Gelar teknologi (technology showcase) merupakan bentuk pendekatan peragaan teknologi dalam rangka diseminasi teknologi hasil-hasil litkaji yangSeminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian, mendukung Program Pembangunan Pertanian Propinsi Sulawesi Utara
Analisis Tingkat Pengetahuan Inovasi Teknologi Budidaya Tomat Di Desa Permatatelah teruji dan dipandang dapat dimapankan karena telah diadaptasikan sesuai dengan kondisi masalah dan kebutuhan petani dan pelaku agribisnis. Disisi lain adopsi inovasi teknologi sangat ditentukan oleh kemampuan modal manusia (pengetahuan, motivasi dan sikap) sebagai proses mental dalampengambilan keputusan untuk mengadopsi (Bulu, et al.,2009).
Kajian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan petani Tomat terhadap inovasi teknologi budidaya tomat sebagai bagian prosespengambilan keputusan dalam mengadopsi inovasi teknologi.

METODOLOGI

Penelitian dilaksanakan di Desa Permata, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo Jenis dan Sumber Data yang diambil berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara terstruktur menggunakan kuisioner yang dilakukan terhadap petani responden (sampel) sedangkan Data sekunder erupakan data pendukung yang diperoleh dari dinas/instansi terkait.

Teknik Penentuan Sampel

Teknik penentuan sampel yang digunakan adalah secara sengaja (purposive sampling) yaitu pengambilan sampel yang dipilih secara langsung berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu yaitu 38 petani tomat peserta Gelar Teknologi Hortikultura di Desa Permata

Analisis Data

Data yang diperoleh adalah data kualitatif yang diberi skor, selanjutnya ditabulasi dan diolah serta di analisis secara deskriptif. Pengukuran terhadap indicator menggunakan rating scale (skala nilai). Sedangkan untuk mengukur tingkat adopsi menggunakan rumus persentase nilai dan diukur dengan garis kontinum, (Padmowihardjo, 2002)Gambar 1. Garis kontinum yang digunakan untuk mengukur tingkat adopsi
inovasi petani 0 % Jelek 25% kurang 50 % cukup 75 % baik 100 %Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian, mendukung Program Pembangunan Pertanian Propinsi Sulawesi Utara Analisis Tingkat Pengetahuan Inovasi Teknologi Budidaya Tomat Di Desa Permata

HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik Responden
a. Penggolongan umur
Umur sangat berpengaruh terhadap kemampuan fisik maupun cara
berpikir seseorang. Semakin tua umur petani maka kemampuan kerjanya relatif
semakin menurun (Hadi, 1987). Hasil observasi yang dilakukan terhadap 38
petani responden menunjukkan golongan umur responden cukup bervariasi, ini
dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Penggolongan umur petani responden di Desa Permata, Kecamatan
Paguyaman, Kabupaten Boalemo.
No. Kelompok Umur (Tahun) Jumlah (orang) Persentase (%)
1. 20 – 30 16
42.11
2. 31 – 40 13
34.21
3. 41 – 50 6 15.79
4 51 – 60 3 7.89
42
42.11
Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2009.
b. Penggolongan Pendidikan
Pendidikan berpengaruh terhadap kemampuan cara berpikir seseorang.
Pendidikan sangat berpengaruh terhadap penerimaan teknologi yang diberikan,
makin tinggi tingkat pendidikan seseorang semakin cepat dalam proses alih
teknologi. Hasil observasi yang dilakukan terhadap 38 petani responden
menunjukkan golongan pendidikan responden dalam tiga level. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Penggolongan pendidikan petani responden di Desa Permata,
Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo.
No. Kelompok Pendidikan Jumlah (orang) Persentase (%)
1. SD 24 63.16
2. SMP 5 13.16
3. SLTA 9 23.68
38 100.00
Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2009Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian, mendukung Program Pembangunan Pertanian
Propinsi Sulawesi Utara
Analisis Tingkat Pengetahuan Inovasi Teknologi
Budidaya Tomat Di Desa Permata
384
Tabel 2 menunjukan bahwa tingkat pendidikan sumberdaya manusia
(SDM) petani responden masih rendah, yaitu 66,67 % berpendidikan SD. Hal
ini mengakibatkan tingkat pengalihan arus teknologi berjalan lambat, sehingga
perlu peningkatan aktivitas penyuluhan. Menurut Hamundu (1997), bahwa
kemampuan petani dalam menerima hal-hal baru banyak bergantung pada
tingkat pendidikan yang mereka miliki. Agar setiap inovasi baru dapat diterima
oleh petani, sehingga harus diberikan pendidikan secara terus menerus sesuai
dengan kebutuhannya.
c. Luas lahan usahatani
Luas lahan usahatani dapat berpengaruh terhadap tingkat pendapatan
dan penerapan teknologi, semakin luas lahan garapan semakin mampu
memberikan jaminan hidup sebagai sumber pendapatan keluarga. Adapun luas
lahan usaha tani responden dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Luas lahan usahatani responden di Desa Permata, Kecamatan
Paguyaman, Kabupaten Boalemo.
No Luas Lahan (Ha) Responden (Orang) Persentase (%)
1. 0,25 – 0,50 31 81.58
2. 0,51 – 1,0 7 18.42
38 100
Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2009.
Tabel 9 menunjukan bahwa sebagian besar petani responden (31 orang
atau 81,58 persen) memiliki luas lahan garapan 0,25 – 0,50 ha. Hal ini
menunjukan bahwa luas lahan garapan yang dikelola oleh petani sangat sempit.
Tingkat Adopsi Teknologi Budidaya Tomat
a. Penyiapan Benih
Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan pertanaman di
lapangan. Benih tanaman tomat yang baik adalah benih benih berasal dari
tanaman yang sehat, baik dan matang fisiologis. Hasil wawancara terhadap
petani responden di Desa Permata, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten
Boalemo, Gorontalo adalah total nilai yang diperoleh 119 sedangkan
maksimum nilai yang dapat dicapai 152 sehingga persentase nilai 78,29%
Berdasarkan hasil plot dengan garis kontinum diketahui bahwa tingkat
adopsi inovasi Penyiapan benih berada pada kategori baik dengan persentase
78,29 %. Hasil tersebut menunjukan bahwa petani responden sudah memahami
dengan baik memilih bibit yang baik.Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian, mendukung Program Pembangunan Pertanian
Propinsi Sulawesi Utara
Analisis Tingkat Pengetahuan Inovasi Teknologi
Budidaya Tomat Di Desa Permata
385
b. Cara Pembibitan
Komponen selanjutnya adalah cara pembibitan. Dimana komponen ini
meliputi kegiatan penggunaan media tanam : tanah, pupuk kandang dan pasir
halus (1 : 1 : 1) serta bibit ditanam 15 - 24 hari di persemaian atau helai daun
sampai berjumlah 3-4 helai. Total nilai yang diperoleh = 123 sedangkan
maksimum nilai yang dapat dicapai 152. Presentase nilai = (123/152 X 100 %)
= 80,92 %. Hasil tersebut menunjukkan bahwa petani dalam hal pembibitan
sudah memahami dengan baik.
c. Pengolahan Lahan
Pengolahan tanah dilakukan dengan cara sempurna di bajak tiga kali
lalu di garu atau di sisir satu kali dilanjutkan pembuatan guludan/bedengan..
Nilai yang diperoleh adalah 130 dari nilai maksimum 152, sehingga presentase
= 85,53 %. Dalam garis kontour menunjukkan keterangan baik, berarti petani
masih sudah memahami.
d. Pembuatan bedengan
Salah satu komponen teknologi budidaya pembuatan bedengan di
lapangan. Petani sudah diharapkan mengetahui ukuran dan cara teknisnya.
Bedengan berukuran panjang 10-12 m, lebar 110-120 cm, tinggi 30-40 cm
(musim kemarau) dan 50-70 cm (musim hujan) serta sebaiknya arahnya
memanjang dari timur ke barat. Nilai yang diperoleh adalah 135 dari nilai
maksimal 152, sehingga presentase nilai adalah 88,82 %. Berada pada garis
kontinum baik.
e. Teknik Pemasangan Mulsa
Komponen teknologi budidaya tomat yang cukup penting adalah
pemasangan mulsa. Tekniknya meliputi waktu pemasangan, ukuran dan cara
pemasangan yang benar. Berdasarkan bahan dan cara pembuatan, mulsa dapat
dikelompokkan menjadi tiga, yaitu mulsa organik, mulsa anorganik, dan mulsa
sintetis. Mulsa organik berasal dari bahan sisa pertanian seperti jerami dan
daun-daunan. Mulsa anorganik berasal dari bahan batu-batuan dalam berbagai
bentuk dan ukuran seperti batu kerikil, dan mulsa kimia sintetis berasal dari
bahan plastik seperti mulsa plastik hitam perak (Harist, 2000). Mulsa juga
dapat mereduksi penguapan dan kecepatan air permukaan sehingga
kelembaban tanah dan persediaan air dapat terjaga (Wardjito, 2001). Nilai yang
diperoleh adalah 88 dari maksimal 152, sehingga presentase nilai adalah 57,89
%. Garis kontour menunjukkan keterangan cukup. Hal ini menggambarkan
petani cukup memahami teknik pemasangan mulsa walaupun belum terbiasa.Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian, mendukung Program Pembangunan Pertanian
Propinsi Sulawesi Utara
Analisis Tingkat Pengetahuan Inovasi Teknologi
Budidaya Tomat Di Desa Permata
386
f. Penanaman
Dalam budidaya tomat penanaman dilakukan bila bibit sudah cukup
kuat bisa dipindahkan ke lahan tanam kira-kira bibit setelah ditanam 15 - 24
hari di persemaian atau helai daun sampai berjumlah 3-4 helai, Jarak tanam :
50-60 cm untuk jarak antar lubang dan 60-70 cm untuk jarak antar barisan.
Pola tanam berbentuk segitiga. Petani responden dalam tahap ini mencapai
score 135 , dengan nilai maksimal 152, sehingga presentase nilai 88,82 %
(baik) berarti petani hampir seluruhnya sudah memahami teknologi penanaman
tomat.
g. Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman tomat yang sesuai dengan teknik budidaya yang
dianjurkan guna memperbaiki pertumbuhan dan produktivitas tanaman harus
mendapat perhatian yang optimal dari petani. Kegiatan pemeliharaan,
penyiangan gulma, pengairan (penyiraman), pengajiran serta pengendalian
hama dan penyakit. Berdasarkan analisis nilai yang diperoleh adalah 124 dari
maksimal 152, sehingga presentase nilai adalah 81,58 %. Garis kontour
menunjukkan keterangan baik. Hal ini menggambarkan petani memahami
dengan baik pemeliharaan tomat.
h. Pemupukan
Pemupukan untuk menunjang pertumbuhan tanaman sudah dilakukan
oleh petani dengan baik dan sesuai anjuran. Total nilai yang diperoleh 128 dari
nilai maksimal 152, sehingga presentasenya 81,58 %. Garis kontour
menunjukkan keterangan tingkat adopsi petani berada pada kategori baik.
Pemberian pupuk NPK (16-16-16) pada tanaman tomat menunjukkan tinggi
tanaman paling tinggi yaitu 30,30 cm pada umur 3 MST dan 77,95 cm umur 7
MST. Perlakuan tersebut juga menghasilkan jumlah buah paling banyak (14,25
buah/tanaman dan 1258,75 buah/petak) dan bobot buah yang tinggi pula
892,50 g/tanaman dan 77,63 kg/petak (Koswara, 2006). Hasil evaluasi dan
observasi melalui pengisian kuesioner oleh petani responden menjawab telah
memahami teknologi pemupukan dalam arti bahwa 100 persen petani telah
melakukan pemupukan, namun tingkat penerapan teknologi pemupukan masih
bervariasi.
i. Perlindungan Tanaman
Perlindungan tanaman ditujukan terhadap serangan hama dan penyakit.
Strategi perlindungan tanaman yang dianjurkan adalah pengendalian hama dan
penyakit secara terpadu, yaitu perpaduan antara pengendalian kultur teknis,
biologis (hayati), dan kimiawi yang dilaksanakan secara serasi. BeberapaSeminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian, mendukung Program Pembangunan Pertanian
Propinsi Sulawesi Utara
Analisis Tingkat Pengetahuan Inovasi Teknologi
Budidaya Tomat Di Desa Permata
387
komponen dalam pengendalian hama dan penyakit secara terpadu ini belum
dilaksanakan sepenuhnya oleh petani. Hasil wawancara diketahui bahwa untuk
perlindungan tanaman didapatkan total nilai yang diperoleh 106 serdangkan
maksimum nilai yang dapat dicapai 152 sehingga pada kategori cukup dengan
persentase 69,74 %.
Penyebab rendahnya persentase kegiatan perlindungan tanaman
disebabkan petani belum mengetahui penyebab tidak sehatnya tanaman yang
dimungkinkan oleh hama, penyakit atau kekurangan hara.
j. Panen
Umumnya petani telah dapat menentukan umur tanaman dan ciri-ciri
visual tanaman terutama dalam penentuan umur panen tanaman. Hasil
wawancara diketahui keadaan kegiatan pemanenan hasil tanaman hortikultura
di desa Permata Kecamatan Paguyaman Kabupaten Boalemo adalah total nilai
yang diperoleh 127, maksimum nilai yang dapat dicapai 152 sehingga
persentase nilai 83,55 %
Berdasarkan hasil plot pada garis kontinum diketahui bahwa untuk
kegiatan pemanenan tanaman hortikultura, tingkat pemahaman petani adalah
baik dengan persentase 83,55 %. Hal tersebut disebabkan karena petani telah
mengetahui umur panen dan ciri-ciri visual dari buah tanaman hortikultura
tomat siap panen. Panen pada umur 90-100 HST dengan ciri; kulit buah
berubah dari warna hijaumenjadi kekuning-kuningan, bagian tepi daun tua
mengering, batang menguning, panen dilakukan pada pagi atau sore hari disaat
cuaca cerah. Tangkai buah tidak disertakan (terputus) dan panen dapat
dilakukan 2-3 hari sekali sampai 10-15 kali per musim tanam. Tingkat
pemahaman petani terhadap inovasi teknologi budidaya tomat dijelaskan pada
Tabel 4.
Tabel 4 memperlihatkan bahwa dari 10 komponen teknologi budidaya
tomat, petani memahami dengan kategori cukup pada komponen pemasangan
mulsa dan perlindungan tanaman. Hal ini disebabkan penggunaan mulsa pada
tanaman tomat belum dikenal secara luas sehingga pemahaman mereka
rehadap penggunaan mulsa bervariasi, Komponen teknologi lain yang memiliki
kategori cukup adalah perlindungan tanaman terutama pengendalian hama
penyakit, ini disebabkan pemahaman petani terhadap penyebab serangan
terhadap tanaman tidak dipahami baik disebabkan hama, penyakit atau
kekurangan hara sehingga pengendalian HPT juga kurang dipahami secara baik
oleh petani.Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian, mendukung Program Pembangunan Pertanian
Propinsi Sulawesi Utara
Analisis Tingkat Pengetahuan Inovasi Teknologi
Budidaya Tomat Di Desa Permata
388
Tabel 4. Hasil evaluasi tingkat pemahaman inovasi petani responden terhadap
teknologi budidaya tanaman Tomat di Desa Permata, Kecamatan
Paguyaman, Kabupaten Boalemo.
No. Indikator
Nilai Total
yang
dicapai
Maksimum
nilai yang
dapat dicapai
Persentase Kategori
1. Penyiapan Benih 119 152 78,29 Baik
2. Cara Pembibitan 123 152 80,92 Baik
3. Pengolahan Lahan 130 152 85,53 Baik
4. Pembuatan bedengan 135 152 88,82 Baik
5. Teknik Pemasangan Mulsa 88 152 57,89 Cukup
6. Penanaman 135 152 88,82 Baik
7. Pemeliharaan 124 152 81,58 Baik
8. Pemupukan 128 152 84,21 Baik
9. Perlindungan Tanaman 106 152 69,74 Cukup
10. Panen 127 152 83,55 Baik
Rata-rata 121,50 152 79,93 Baik
Delapan komponen lain memiliki kategori baik menandakan petani
sudah memahami kedelapan komponen tersebut dengan baik, sehingga secara
keseluruhan pemahaman petani terhadap inovasi teknologi budidaya tomat
memiliki kategori baik dengan nilai persentase 79,93%.
KESIMPULAN
Untuk lebih dapat meningkatkan pemahaman petani tomat di Desa
Pertama, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo penyuluhan Budidaya
Tomat perlu difokus pada komponen pemasangan mulsa dan pengendalian
hama penyakit secara terpadu (HPT) mengingat pemahaman petani berkategori
cukup.
DAFTAR PUSTAKA
Bulu, Y.G., S.S. Hariadi, A.S. Herianto dan Mudiyono. 2009. Pengaruh Modal
Sosial dan Keterdedahan Informasi Inovasi Terhadap Tingkat Adopsi
Inovasi Jagung di Kabupaten Lombok Timur Nusa Tenggara Barat.
Jurnal Agro Ekonomi Vol 27 (1) hal 1-21.
Padmowihardjo, S, 2002. Evaluasi Penyuluhan. Universitas Terbuka, Jakarta.Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian, mendukung Program Pembangunan Pertanian
Propinsi Sulawesi Utara
Analisis Tingkat Pengetahuan Inovasi Teknologi
Budidaya Tomat Di Desa Permata
389
Harist, A. 2000. Petunjuk Penggunaan Mulsa. Penebar Swadaya, Jakarta. hlm.
l 9-25.
Wardjito. 2001. Pengaruh penggunaan mulsa terhadap pertumbuhan dan
produksi Zuchini (Cucurbitae pepo. L). Jurnal Hortikultura Vol.11(4).
Koswara, E. 2006. Teknik Percobaan Beberapa Jenis Pupuk Majemuk NPK
Pada Tanaman Tomat. Buletin Teknik Pertanian Vol. 11 No. 1, 2006 hal
41-43

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika ada komentar dipersilahkan, namun harap menggunakan kata-kata yang sopan